Senin, 19 Januari 2009

Renungan sepi

Aku mencari kekasihku di hutan, di bawah pohon-pohon, di sisi danau-danau. Aku tidak dapat menemukannya, karena Substansi telah membawanya ke kota hingar-bingar dan menaruhnya di atas singgasana dari baja yang mewah.
Aku memanggilnya dengan suara dari pengetahuan dan lagu kearifan. Dia tidak mendengar, karena Substansi telah mengajaknya ke ruang bawah tanah dari sifat mementingkan diri, di mana ketamakan berada. (Kahlil Gibran)

Aku mencarinya di ladang kesenangan, tetapi aku sendiri, karena pesaingku telah memenjarakannya dalam gua kerakusan dan keserakahan, dan menguncinya di sana dengan rantai-rantai emas yang menyakitkan.
Aku memanggilnya saat fajar, ketika alam tersenyum, tetapi dia tidak mendengar, karena kemewahan telah memenuhi matanya yang sudah diracuni dengan tidur yang sakit.
Aku memperdayakannya pada malam hari, ketika kebisuan berkuasa dan bunga-bunga tidur. Namun dia tidak memberikan tanggapan, karena ketakutannya terhadap apa yang akan esok bawa, menyinari pikiran-pikirannya. (Kahlil Gibran)

Renungan jiwa

“Kamu semula mati, dan Dia menghidupkan kamu kembali, kemudian Dia akan menyebabkanmu mati, dan Dia akan membangkitkan kamu; kemudian kepada-Nya-lah kamu akan kembali.” (Al-Qur’an 2:28)


Aku melayang ke ruang tak terbatas dan mengambil sayap di dunia maya, menyongsong lingkar cahaya kemuliaan; dan sekarang inilah aku, luluh dalam waktu.
Aku mendengarkan ajaran konfusisus, memetik kebijakan brahma dan duduk di samping Budha di bawah pohon kearifan. Dan sekarang aku di sini, meregang ketidaktahuan dan kesangsian. Aku berada di Sinai ketika Tuhan mencurahkan cahayanya atas Musa; di sungai Yordan aku menjadi saksi kemukjizatan atas Isa; dan di Madinah aku mendengarkan sabda Muhammad kepada orang-orang Arab.
Dan sekarang aku di sini, menjadi tawanan kegalauan. (Kahlil Gibran)

Kita semua tergila-gila pada paham bahwa kejelasan terdapat pada ‘aku’, sedang kepura-puraan terdapat pada ‘kamu’. Karena itu kita tidak mau merasakan apa yang oleh jiwa dibisikkan kepada ‘aku’ dan apa yang tersembunyi yang terdapat pada ‘kamu’.
Apa yang sesungguhnya sedang kita lakukan ketika keangkuhan membuat kita berpaling dari kebenaran yang terpampang di tengah-tengah kita?.
“Apakah kamu bertindak adil bagi dirimu tatkala kamu menyingsingkan matamu kearah Tuhan Yang Mahakuasa dan memanggilnya Bapa, kemudian berbalik menundukkan kepalamu di hadapan manusia yang kau panggil Guru?” (Kahlil Gibran)

Alam mengulurkan tangan kesetiaannya kepada kita, mengharap kita menerima keelokannya. Tapi kita takut akan kesunyian dan memilih berlindung dalam hiruk-pikuk kota, tempat kita berdesakan dalam kerumunan yang mampat bagaikan kawanan domba dalam incaran serigala lapar.
Kebenaran mendatangi kita lewat senyuman bocah atau ciuman kekasih. Tapi kita membanting pintu hati, menolak dan mencampakannya bagai menghadapi penjahat culas. (Kahlil Gibran)

Senin, 12 Januari 2009

Permulaan Kata
Suatu hari nanti pasti akan ku temukan seorang teman yang mau menemaniku diwaktu susah maupun senang, tapi itu entah kapan akan terjadi aku tidak pernah memikirkannya, tapi aku yakin kemungkinan itu pasti ada karena semua manusia diciptakan tuhan untuk saling bersosialisasi. Aku yakin itu karena aku masih termasuk orang yang beriman.
Saat semua itu terjadi mungkin saja semua kondisi dan situasi yang sekarang ini sudah berubah mengikuti apa itu yang dinamakan takdir yang pasti akan terjadi.

Disini anda akan saya ajak untuk mengarungi dunia sepi tanpa keramaian, bagi anda yang merasa kesepian silahkan bergabung di sini.
Siapapun,kapanpun,dan dimanapun boleh merelakan waktunya untuk bergabung disini
Tidak ada pembatasan elemen-elemen apapun untuk bergabung, semua individu adalah sama dimata Tuhan Yang Mahakuasa. Apalagi manusia yang seujung jari pun tidak ada apa-apanya dibandingkan keagungan-Nya apakah mungkin bisa mengkotak-kotakan kelas antara sesama umat manusia .
Disini kita akan merenungi apa yang telah kita lakukan selama ini, apakah perbuatan yang selama ini kita lakukan telah bermanfaat bagi orang lain,alam,negara dan bangsa atau bahkan diri kita sendiri.

Dimana kita akan menemukan tujuan hidup di dunia ini, apapun itu kita semua belum dapat mengetahuinya biarlah semua mengalir dengan apa adanya.
Sampai kapan manusia akan bertahan hidup di dunia ini apabila mereka sendiri tidak mau tahu akan hidupnya sendiri, mereka sibuk memikirkan apa yang dilakukan orang lain, apa yang diperoleh orang lain, dan dari mana orang itu memperolehnya. Mengapa manusia seperti itu masih bangga akan hidupnya, apa yang mereka cari dari perbuatan seperti itu.
Seseorang yang merasa dirinya yang paling benar adalah orang yang sebenarnya lemah, karena orang itu tidak berani untuk maju mengakui kesalahannya.
Seseorang yang merasa dirinya paling lemah adalah orang yang memang benar-benar lemah, karena orang itu tidak mau berusaha untuk menjadi lebih.

“Wahai kaum rasionalis, janganlah kubangan rasio kalian diselubungi hawa nafsu dan kesombongan. Janganlah enggan menerima kebenaran karena hendak mencari ketenaran dan kedudukan”.
Ketahuilah bahwa kebenaran itu memang berat, tetapi di samping itu juga kuat. Sesungguhnya kebatilan itu amat ringan, dan disamping itu keropos. Yang berlalu biarlah berlalu. Pintu taubat terpampang di hadapanmu. Oleh karena itu masukilah dengan segera sebelum terlambat semuanya.
Salam kedamaian,,selamat bergabung semoga selamat dunia dan akhirat.